Puluhan pengunjukrasa yang tergabung dalam Front Aksi Jakarta (Fajar) kembali membakar poster Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di halaman kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta di Jalan Pangeran Diponegoro, Jakarta Pusat, Selasa (16/3). Sehari sebelumnya, elemen ini juga membakar poster SNY dan Wapres Boediono serta Menteri Keuangan Sri Mulyani. Ketiganya dianggap bertanggungjawab atas kasus Bank Century.
"Kami tidak akan pernah berhenti berteriak menuntut agar trio SBY-Boediono-Sri Mulyani, walau teman-teman kami ditangkapi. Tekad kami tidak akan pernah luntur," tegas Ronald satu diantara aktivis. Dia dan pulan aktivis lainnya sengaja berunjuk rasa di depan kantor LBH, karena selain posisinya strategis, juga agar bila ada penangkapan lagi terhadap aktivis mereka, bisa langsung mengadu pada LBH.
"LBH sendiri sangat kooperatif dengan kami. Kami pun berharap agar mereka (LBH) tetap membantu perjuangan kami, khususnya bila kami harus bersinggungan langsung dengan proses hukum," lanjut Ronald.
Mereka mulai berdemo pukul 10 .oo WIB dengan menutup satu lajur jalan. Usai berorasi, aksi dilanjutkan dengan membakar selebaran kertas bergambar foto SBY, Boediono dan Sri Mulyani.
Dalam aksinya mereka menuntut agar SBY, Boediono, dan Sri Mulyani ditangkap dan diadili karena menjadi orang yang paling bertangung jawab atas skandal aliran dana Rp6,7 Triliun ke Bank Century. Selain itu, mereka juga menuntut untuk tuntaskan pelanggaran HAM di Indonesia.
Aksi damai tersebut cukup menarik perhatian dari para pengguna jalan dan memacetkan arus lalu lintas dari arah Cikini menuju Salemba karena pengunjuk rasa menggunakan satu lajur jalan.
Sementara itu tidak terlihat penjagaan yang berarti dari aparat kepolisian, hanya beberapa petugas berpakaian sipil yang memantau dari kejauhan. Aksi tersebut rencananya dilangsungkan selama 10 hari dengan maksud membuktikan pada kekuasaan bahwa kekuatan ekstraparlemen masih ada.
Bersamaan dengan demonstrasi ini, sebuah pesan singkat yang berisi nada ancaman terhadap LBH Jakarta dari Staf Khusus Presiden SBY, Andi Arief, menyebar di kalangan wartawan. Isinya menegaskan bahwa dana pemerintah akan dihentikan kepada LBH bila organisasi non-profit ini terus membela para aktivis anti SBY.
"Bagi kami ancaman seperti itu bukan yang pertama kali dan tentu tidak membuat kita surut untuk berhenti. Hari ini adalah suatu bukti bahwa mereka salah dalam menghitung kekuatan kita," kata Koordinator aksi Mustar Bona Ventura. dod