PERHATIAN : Jika mengkopi berita-berita dari Website BATAKPOS harus menyebutkan sumbernya : www.batakpos-online .com .   Terima Kasih

 
Home arrow OBROLAN KEDAI KOPI arrow Judi Oh Judi?

Judi Oh Judi…

‘Aku merana karena judi…’

LAGU superstar dangdut H. Rhoma Irama itu sepertinya tak membuat orang jera dengan judi. Meski pun sudah berkali-kali diingatkan bahwa hasilnya hanya membuat merana dan tersiksa, toh asyknya bermain judi membuat kita jadi lupa diri bahwa polisi sudah muncul membawa borgol. Selain polisi benaran, ‘Polisi Toba’ juga sering mencak-mencak. Itu lho, ‘Pardiajabu’ alias yang di rumah. Tak sedikit kaum istri yang sengaja melabrak suami di tempat perjudian. “Na so diingot ho be gellengman?,” demikian umpatan sang istri sambil berkacak-pinggang dengan volume suara laksana giring-giring atau lonceng. Maksudnya, jangan karena judi jadi lupa anak dirumah.

Belum lama ini pula, kasus judi membuat gerah telinga kita. Bayangkan, orang-orang penting di daerah pula. Beberapa tahun silam, beberapa anggota Dewan dari Tobasa ketangkap basah bermain judi di sebuah hotel di Jakarta. Minggu lalu, lima pejabat Samosir digiring dari sebuah rumah warga juga gara-gara leng.

“Ini menandaskan bahwa judi memang gampang-gampang susah diberantas. Di satu sisi bisa kita tolerir, tapi di lain sisi tidak,” komentar amani Togap menanggapi perbincangan soal judi di kedai nai Heppot.

“Maksudmu? Jangan bikin bingunglah, pa’ Cik. Negeri ini sudah penuh dengan kebingungan. Jangan kau tambah-tambahi pula,” cetus amani Bungkas sambil membelai-belai rambutnya yang sudah ‘agus’, agak gundul sedikit.

“Dari jaman dulu, budaya kita sudah mengenal judi. Banyak legenda Batak yang bertutur soal itu. Hebatnya, para ‘The King of Gambler’ itu sengaja pula melanglang-buana mencari lawan tangguh. Tak kalah dengan film Mandarin “Raja Judi”. Dalam lagu Nahum Situmorang yang berjudul ‘The Great Situmorang’ yang lebih popular dengan judul ‘Situmorang Na Bonggal’ juga bisa kita simak syairnya: parjuji talu ingkon monang. Artinya, dari dulu budaya judi sudah ada,” terang amani Togap.

“Namun perjudian seperti itu jelas tidak bisa kita tolerir. Harta tergadai. Keluarga rusak. Maka itu judi bisa jadi singkatan ‘Jual Diri’. Tapi yang bisa kita tolerir tentunya judi gaya melek-melekan alias maranggap atau saat ada bayi dilahirkan di kampung. Biasanya ini berguna untuk menjaga si bayi dan ibunya sepanjang malam. Dan pemainnya pun bisa yang sekedar tahu judi saja. Dan taruhannya pun tidak besar. Dilihat dari segi frekwensinya, permainan judi macam ini pun terbilang jarang. Artinya kondisinya hanya ada saat seorang ibu melahirkan. Coba macam pejabat itu, persoalannya kan sudah beda,” papar amani Togap.

“Jadi, maksudmu, judi bisa ditolerir? Pokoknya, dengan kondisi apa pun ceritanya, judi tak bisa kita terima. Harus diberangus dari muka bumi Indonesia tercinta ini,” sambut amani Posma yang belum lama ini menyandang gelar Sintua atau penatua gereja. 

“Bukan begitu maksudnya. Ini soal budaya. Justru yang aku lihat, model judi melek-melekan sudah tak populer lagi. Tapi coba di kedai-kedai, seharian orang tahan main judi. Kalau ditangkap macam pejabat itu, hayo, siapa yang rugi? Toh diri sendiri juga. Ini namanya seperti apa yang disebut peribahasa: berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersenang-senang dahulu, baru ke dokter kemudian. Maksudnya, jika ketangkap ya berabe. Tak hanya kurungan menanti, badan juga jadi sakit akibat begadang terus-menerus. Yang untung kan dokter,” terang amani Togap sambil ngakak.

“Tapi metodemu itu jelas melanggar program KB. Akibatnya, orang jadi berlomba-lomba punya anak agar naluri judi bisa terlampiaskan,” sanggah amani Harapan.

“Lho, punya anak banyak sekarang ini sudah tak gaul. Sudah tak jaman. Jadi, dengan kita tolerirnya judi gaya melek-melekan maka dengan sendirinya akan mengurangi naluri judi. Memang, dasar penjudi tetap penjudi. Tapi setidaknya, ‘Polisi Toba’ tak perlu turun manorui alias main gerebek. Malah ada semacam restu karena mempertimbangkan unsur humanisme. Yaitu tadi, menjaga keselamatan si bayi dan ibunya sepanjang malam. Tapi sudahlah, kalau pejabat yang di Samosir itu jelas melanggar tatanan adat di mana pulau berlegenda itu merupakan basis budaya Batak. Apalagi tak jauh pula letaknya dengan Pusuk Buhit yang dianggap sebagai asal-muasalnya manusia Batak. Tak tahulah aku bagaimana tanggapan Bupatinya,” tutup amani Togap dengan wajah lesu.

 
< Prev   Next >