HomeOLAH RAGA Kualitas Tim Indonesia 'Produksi' Uruguay Diragukan
Kualitas Tim Indonesia ‘Produksi’ Uruguay Diragukan
Jakarta, BATAKPOS
Setelah hampir dua tahun berguru di Uruguay, Timnas Indonesia U-19 tampil di hadapan publik pencinta sepakbola Indonesia dalam kualifikasi Piala Asia U-19 di Bandung, Jawa Barat, 7-17 November 2009. Ternyata, lebel Uruguay tidak menjadi jaminan kualitas tim ini. Permainan tim junior Indonesia lebih bagus saat masuk fase grup Piala Asia U-16 2008 atau saat belum berlatih di Uruguay.
Kecepatan dan agresifitas saat masih ditangani Subangkit (pelatih lokal) terlihat sirna saat Indonesia ditekuk Singapura 0-1 pada partai pembuka kualifikasi Grup F Piala Asia U-19, Sabtu (7/11). Sebelum peluit kick-off dibunyikan wasit, formasi 4-4-2 yang diterapkan Cesar Payovich (Pelatih Indonesia asal Uruguay) awalnya terlihat indah.
Saat memasuki lapangan, 11 pemain harapan Indonesia itu berpostur tinggi dan tegap. Sayang, harapan itu sirna saat mereka bermain lambat dan terlihat keberatan dengan fisik. Hal ini sangat jauh berbeda saat ditangani Subangkit mengarungi kompetisi U-16, dua tahun silam.
Kondisi ini menjadi sorotan. “Kalau cuma membangun fisik dan stamina di Italia lebih bagus. Dua tahun, tidak hanya fisik dan stamina, kecepatan dan teknik juga akan didapat pemain,” kata mantan pemain Timnas Indonesia Imran Nahumaruri. Nahumaruri pernah merasakan pelatnas Primavera Indonesia di Italia, era pertengahan 1990an.
Saat menghadapi Singapura, Indonesia mencoba memanfaatkan permainan bola atas dengan menempatkan dua striker jangkung, Syamsir Alam dan Yandi Sofyan. Ditambah keberadaan penyerang muda cukup tinggi asal Jawa Timur, Vava Marrio di sisi kiri permainan.
Selain sokongan Vava, praktis racikan ala Uruguay ini bertumpu dengan serangan dari kanan permainan yang mengandalkan kecepatan dan skill pemain asal Maluku Abdul Rahman Lestaluhu. Sektor pertahanan Indonesia belum teruji saat menghadapi Singapura.
Duet Mochamad Zainal dan Mokhamad Syafudin di jantung pertahanan nyaris tak merasakan teror maksimal dari lawan. Gol kemenangan Singapura terjadi karena masalah koodinasi saat menerapkan jebakan off side. Kinerja barisan gelandang juga tak terlihat karena Rizky Ahmad dan Feri Sanjaya bermain lebih bertahan. Juga kemampuan mengendalikan permainan tak berjalan, bahkan terlihat kebingungan. wis